Home » , » Antariksa | Standar Penanggalan Internasional

Antariksa | Standar Penanggalan Internasional

Diposting Oleh Ahmad Budairi on Saturday, October 13, 2012 | 2:30 PM

GARIS TANGGAL INTERNATIONAL:

ANTARA PENANGGALAN MILADIAH DAN HIJRIYAH

 

Dr.-Ing. Khafid

Anggota Litbang PPLF-NU

Pusat Pemetaan Dasar Kelautan dan Kedirgantaraan

Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional

Jl. Raya Jakarta-Bogor Km. 46 Cibinong-Bogor

Ringkasan

 

Dalam sejarahnya, permasalahan garis tanggal dalam kalendar Miladiah baru muncul setelah manusia mampu melakukan perjalanan keliling dunia. Untuk mengatasi masalah ini sejak tahun 1884, Garis tanggal International (International date line) disepakati sebagai garis maya yang bergerak dari kutub Utara ke kutub Selatan yang kira-kira melalui bujur 180º.  Dalam makalah ini akan dibahas tentang sejarah ditetapkannya garis tanggal ini.

 

Pada prinsipnya umat Islam, dalam sistem penanggalan Hijriyah penentuan (penamaan) hari beriringan dengan sistem penanggalan Miladiah. Dalam hal ini, disadari ataupun tidak, konsep garis tanggal international telah diadopsi juga dalam penanggalan Hijriyah. Sedangkan permasalahan yang masih muncul hingga saat ini adalah penentuan garis tanggal dalam kalendar Islam yang bersifat dinamis berubah pada setiap pergantian bulan. Bisakah permasalahan ini dipecahkan?

 

Pendahuluan

Permasalahan garis tanggal International, baik dalam sistem penanggalan Miladiah maupun Hijriyah dipicu oleh perkembangan teknologi. Jika kita tengok sejarah, sebelum abad 15 M tidak ada permasalahan tentang garis tanggal ini. Permasalahan timbul ketika manusia mengenal teknologi perkapalan, sehingga mampu mengelilingi dunia, barulah kemudian disadari perlunya menentukan garis tanggal International. Demikian juga dengan penanggalan Hijriyah, perkembangan teknologi komunikasi membuat perbedaan penentuan garis tanggal yang sebelumnya tidak dipermasalahkan, kini menjadi masalah.

clip_image002[4]

Gambar 1. Hilal yang dilihat di Mesir bisa segera diinformasikan lewat telpon ke Indonesia

Teknologi berkembang dengan demikian pesat, bahkan pada dasarnya teknologi adalah salah satu sarana utama bagi manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Globalisasi yang demikian populer saat ini tidak terlepas dari pengaruh dan dorongan percepatan perkembangan teknologi, tidak luput pula tentunya pengaruhnya terhadap aspek kehidupan sosial masyarakat termasuk didalamnya umat Islam. Berkat kemajuan teknologi, hasil hisab/rukyat yang dilakukan umat Islam di belahan bumi lain, dapat diketahui/dikomunikasikan dengan cepat bahkan dalam hitungan detik.

Di satu sisi perkembangan teknologi ini mampu mempercepat arus informasi, disisi lain membawa dampak yang cukup pelik antara lain munculnya permasalahan penentuan garis tanggal.

Sisi positif lain, perkembangan teknologi yang pesat diharapkan dapat mendukung pelaksanaan hisab dan rukyat hilal, sedemikian rupa sehingga perbedaan-perbedaan yang terjadi di masyarakat berkisar hasil hisab dan rukyat dapat diminimalkan. Namun perlu dicatat, bahwa teknologi bukan satu-satunya faktor yang dapat memecahkan permasalahan perbedaan dalam kalender Islam.

Peta sebagai sarana menelusuri sejarah

 

Sejarah penyebaran manusia dapat dilihat dari perkembangan bentuk dan detil peta . Pada awalnya, mobilitas manusia dalam lingkup yang sangat terbatas, seperti yang diperlihatkan pada peta dunia karya Al-Idrisi (lihat Gambar 2). Berdasarkan peta ini dapat disimpulkan bahwasaannya sampai abad ke 12 M pengetahuan manusia belum menggapai seluruh belahan bumi dan tentu saja belum muncul permasalahan garis tanggal.

 

Kemudian seiring dengan perjalanan waktu, peta-peta tersebut mengalami penyempurnaan.

 

clip_image004[4]

 

Gambar 3. Peta Dunia karya Hondius, 1630

clip_image006[4]

 

Gambar 2. Peta dunia, karya Al-Idrisi tahun 1154.

 

Pada tahun 1569, Gerard Mercator seorang Kartografer Jerman menemukan sistem proyeksi peta yang dikenal sampai saat ini sebagai proyeksi Mercator. Dengan sistem ini bola dunia dipetakan dengan lebih baik, terutama untuk keperluan navigasi.

 

Pada tahun 1630, Hondius membagi bola bumi menjadi dua bagian. Pembagian bola bumi ini ternyata tidak berpusat di Greenwich.

 

Sejarah Garis Tanggal International dalam Kalender Miladiah

Seorang geografer sekaligus sejarawan Syria bernama Ismail ibn Ali ibn Mahmud ibn Muhammad ibn Taqi ad-Din Umar ibn Shahanshah ibn Ayub al Malik al Mu’ayyad Imad ad-Din Abu al-Fida (1273-1331) menuliskan dalam bukunya berjudul Taqwim al-Buldan: Seorang yang mengelilingi dunia tergantung arahnya maka dia akan kehilangan atau mendapatkan tambahan satu hari setelah dia kembali ke tempatnya semula (Lihat Rudolf Wolf, 1890). Hal ini dikuatkan oleh  ilmuwan Perancis, Nicole Oresma (1325-1382) yang menulis sebagai berikut:

Dua orang bernama Jehan dan Pierre melakukan perjalanan sepanjang equator dengan kecepatan 30 derajat bujur setiap 24 jam. Jehan, bergerak ke arah barat, setelah menyelesaikan perjalanannya dia mencatat waktu 11 hari. Sedangkan Pierre, yang bergerak ke arah timur, mengatakan perjalanannya memakan waktu 13 hari. Orang ketiga, yang tidak ikut melakukan perjalanan keliling bumi mengatakan mereka menyelesaikan perjalanannya sama lamanya yakni 12 hari.

 

Cerita imaginasi Ismail maupun Nicole menjadi kenyataan pada saat para pelayar berhasil mengelilingi dunia. Ferdinand Magellan (1480-1521), merupakan orang pertama yang mengalami masalah kehilangan hari. Dia dan anak buahnya berlayar dari pelabuhan San Lucar de Barrameda, Spanyol pada September 1519. Tiga tahun kemudian, ketika dia kembali dengan yakin bahwasannya hari Rabu, namun penduduk setempat mengatakan hari Kamis. Enam puluh tahun kemudian, pelaut asal Inggris yakni Francis Drake (1545-1596) mengalami hal yang serupa.

 

Pengalaman ini juga dialami seorang pelaut Belanda, Isaac le Maire (?-1624), yang berlayar melalui Amerika Selatan akhirnya tiba di Batavia (Jakarta) pada November 1616. Di tempat singgahnya ini, dia dapatkan hari yang berbeda dari hari yang diyakininya.

 

Usulan garis tanggal sekitar abad ke 17

 

Berdasarkan pengalaman para pelaut yang sempat mengelilingi dunia ini, permasalahan garis tanggal menjadi tema yang menarik untuk dibicarakan saat itu. Ada berbagai usulan untuk menyelesaikan masalah ini, antara lain:

v Pada tahun 1612, sejarawan perancis Nicholas Bergier (1567-1623) mengusulkan untuk memakai kebalikan (opposite) dari sentral meridian sebagai garis tanggal international,

v Erik de Put (1574-1646) mempublikasikan karyanya pada tahun 1632, sentral meridian melalui kota Roma, sedangkan garis tanggal berada pada kebalikannya. Dia mengusulkan bahwa tidak menimbulkan permasalahan, hendaknya garis tanggal melalui perairan (sedapat mungkin menghindari daratan).

v Seorang profesor theologi dan filosofi, Giacomo Micalori (1570-1645) tidak menyetujui usulan Erik de Put.

Permasalahan ini berlarut-larut, tidak sepenuhnya dicapai kata sepakat hingga awal abad ke 19. Pada tahun 1830, seorang ahli astronomi Jerman Heinrich Wilhelm Matthias Olbers (1758-1840) memberikan deskripsi sebagai berikut:

Beyläufig wird sie jetzt, vom Südpol kommend, östlich von Neuseeland und Neuholland [Australia] entfernt bleiben, sich dann zwischen den Carolinen und Neuguinea hindurch nach Westen biegen, die Philippinen und Marianen einschliessen, südostlich von Japanischen und Kurilischen Inseln, und südlich von den Aleuten nach der Nordwestküste von America streichen; diese Küste zwischen den Niederlassungen der Anglo-Amerikaner und der Russen durchschneiden, und nich weit östlich von diesen Russischen Colonien nach dem Nordpol laufen. Dies. ist ungefähr die jetzige Richtung und Figur der Linie, auf der derselbe Tag zugleich anfängt und aufhört. Westwärts von dieser Linie zählt man als Datum und Wochentag einen Tag mehr, als ostwärts”

Yang terjemahannya kira-kira sebagai berikut:

 

Sekarang, kira-kira dia (garis tanggal international) bergerak dari Kutub Selatan, tetap terletak di sebalah timur Selandia Baru dan Holland Baru [Australia], kemudian melewati antara Carolinen dan New Guinea membelok ke arah barat mengelilingi Philipina dan Mariana, sebelah tenggara Kepulauan Japan dan Kurili, dan selatan Aleut ke pantai barat laut amerika; Pantai ini melewati antara pendudukan Anglo-Amerika dan Rusia, dan tidak jauh dari koloni Rusia ini menuju ke Kutub Utara. Ini kira-kira arah dan gambaran garis, dimana saat hari dimulai dan diakhiri. Sebelah barat garis ini orang menghitung sebagai tanggal dan nama hari sehari lebih dulu dibandingkan sebelah timur.

 

Pada saat yang sama, seorang kapten laut asal Jerman G. Wilcke pada tahun 1830 mengusulkan untuk menggunakan garis bujur yang melalui tengah selat Bering (169º1’ sebelah barat Greenwich) sebagai garis tanggal Internatioal.

 

Hari Selasa tanggal 31 Desember 1844 tidak pernah ada di Philipina

 

William Dampier (1651-1715) selama perjalanannya mengelilingi dunia pada tahun 1679-1691 sampai di Mindano Philipina pada Januari 1687. Dalam sebuah jurnal dia menuliskan bahwa orang-orang muslim setempat (yang disebutnya dengan Indian Mahometans) disini melaksanakan sholat jum’at, sedangkan hari yang diyakininya adalah adalah hari Kamis. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Perjalanan orang-orang spanyol mencapai  Philipina adalah perjalanan ke arah barat. Philipina ditemukan setelah benua Amerika. Sehingga perhitungan harinya berbeda (lebih lambat satu hari) dibanding orang-orang muslim yang datang ke Mindano yang  melakukan perjalanan ke arah Timur.

 

Semula perhitungan hari di Philipina adalah sama atau mengikuti Amerika sampai pada awal tahun 1840-an. Saat itu kepentingan perdagangan di Philipina mulai mengarah ke Cina dan negara-negara tetangga dekatnya (termasuk Indonesia), kepentingan dengan Amerika mulai berkurang. Namun hubungan dengan negara tetangga ini terganggu komunikasinya karena masalah perbedaan penyebutan hari. Akhirnya pada tahun 1844, Autoriti di Philipina untuk mengadopsi perhitungan hari menurut Asia, dan meninggalkan perhitungan ala Amerika.. Gubernur Jendral Philiphina, Narciso Claveria mengumumkan bahwa hari senin 30 Desember 1844 langsung diikuti hari Rabu tanggal 1 Januari 1845. Dengan kata lain hari Selasa tanggal 31 Desember 1844 tidak ada di Philipina.

 

Definisi Garis Tanggal International

 

Para ahli geografi mendefinisikan garis-garis meridian (bujur) sebagai garis-garis maya melalui kutub utara dan selatan mengelilingi bumi.  Garis-garis tersebut diberi sebutan sesuai dengan titik lintasannya (timur atau selatan) dengan mengacu garis meridian Greenwich Observatory di London sebagai garis meridian 0. Pada tahun 1884 pada International Meridian Conference, di Washington yang dihadiri perwakilan dari 25 negara, Garis Meridian Greenwich dipakai secara International sebagai meridian utama yang merupakan basis perhitungan waktu Greenwich Mean Time (GMT). Berjarak 180° dari garis tersebut didefinisikan sebagai garis tanggal international (International Date Lines).

 

clip_image008[4]

 

Gambar 4. Garis tanggal international

 

Dengan kata lain,  Garis tanggal International adalah garis maya pada permukaan yang mendekati garis bujur 180° sebagai pemisah tanggal dalam kalender gregorian/Masehi. Jika seseorang melakukan perjalanan melintas garis ini ke arah timur,  dia kembali ke tanggal sehari sebelumnya.

 

Seiring dengan perjalanan waktu, garis tanggal international ini menyesuaikan dengan kebutuhan negara-negara pasifik (misal Fiji, Tuvalu, Samoa dll.) yang terletak di sekitar garis ini.

 

Selanjutnya berdasarkan garis tanggal ini dibuat Zona waktu yang membagi dunia menjadi 24 bagian. Secara teoritis setiap bagian zona waktu ini mencakup 15º bujur, namun dalam kenyataan menyesuaikan dengan peta politik yang membagi dunia menjadi ratusan negara.

Garis Tanggal dalam Kalendar Hijriyah

 

Dalam hal penentuan hari (Senin, selasa …dst), kalender Islam mengikuti garis tanggal Internasional tersebut di atas. Namun dalam penentuan tanggal, kalender Islam mengikuti garis tanggal secara dinamis yang setiap bulannya berubah-ubah. Dengan demikian, karena tidak berimpitnya garis tanggal international dengan garis tanggal kalender Islam maka akan terjadi perbedaan antara tempat yang satu dan tempat yang lainnya (tergantung posisi geografisnya) dalam penggunaan kalender Islam.

 

Permasalahan timbul akibat adanya perbedaan interpretasi dasar syar’i penentuan awal bulan Hijriyah yang dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian:

1.      Rukyah

Sistem ini mengharuskan pengamatan hilal di lapangan, yang hasil pengamatan dan keputusannya akan dipengaruhi hal-hal sebagai berikut:

a.    Kecermatan perukyah

b.    Keadaan cuaca

c.    Posisi Geografis

d.    Wilayatul Hukmi

Sehingga, meskipun menggunakan metode yang sama yakni menggunakan rukyah dimungkinkan keputusan yang didapat berbeda.

2.     Hisab

a.    Metode hisab

b.    Kriteria kenampakan hilal

c.    Wilayatul Hukmi

Demikian juga dengan metode hisab ini, dapat juga menghasilkan keputusan yang berbeda tatkala faktor-faktor di atas berbeda.

 

Sekedar contoh, penentuan garis tanggal dapat dilakukan berdasarkan perhitungan ketinggian bulan atau hilal. Di dalam peta di bawah ini, bisa kita lihat, adakalanya satu wilayah mempunyai ketinggian bulan positif dan ada kalanya negatif. Wilayah-wilayah yang mempunyai ketinggian bulan negatif sudah barang tentu dapat disimpulkan di wilayah tersebut tidaklah mungkin bulan akan nampak. Sedangkan untuk daerah-daerah yang mempunyai ketinggian positif masih perlu di analisi lebih lanjut dengan gabungan data-data lainnya. Jadi jelaslah bahwa syarat mutlak kenampakan hilal adalah posisi bulan harus berada di atas ufuk.

 

clip_image010[4]

Gambar 5. Peta Ketinggian bulan dalam derajat pada saat matahari terbenam

                          tanggal 2 November 2005

 

Apa kriteria kenampakan hilal?

 

Sampai hari ini masih terjadi perbedaan pendapat. Andaikan kita murni menggunakan ketinggian hilal saja, maka garis tanggal tersebut akan tergantung pada kriteria berapa derajat kita menerapkannya (lihat gambar atas). Selanjutnya garis tanggal yang diterapkan akan disesuaikan dengan wilayatul hikmi yang berlaku. Hal ini akan menyebabkan garis tanggal dalam kalender Islam tidak berupa garis lurus (mulus) dan bahkan garis tanggal discontinue (putus-putus) apabila kriteria yang diberlakukan berbeda antar satu negara dengan negara lainnya.

 

Kesimpulan

 

Permasalahan garis tanggal International dalam sistem penanggalan Miladiah pada abad ke 15, pada akhirnya dapat diselesaikan dengan cara konvensi dalam International Meridian Conference pada tahun 1884. Setelah lebih dari 4 abad lamanya, perbedaan-perbedaan persepsi mengenai garis tanggal International ini dapat disatukan.

 

Bagaimana dengan pemecahan masalah penentuan garis tanggal dalam sistem penanggalan Hijriyah? Hal ini bukan hal yang tidak mungkin untuk lebih cepat diselesaikan. Pada hakekatnya, faktor utama untuk pemecahan masalah ini adalah diperlukannya lembaga yang mempunyai wewenang untuk memutuskan segala perbedaan yang ada. Keputusan ini sifatnya mengikat. Supaya tidak menimbulkan kontroversi maka pemegang wewenang ini harus di bekali dengan data-data ilmiah, fiqh dan kesepakatan bersama antara pihak-pihak yang berkepentingan.

 

Saran-saran

 

Untuk penyatuan garis tanggal dalam penanggalan Hijriyah di Indonesia, perlu ditetapkan sebuah lembaga yang mempunyai wewenang memutuskan garis tanggal yang diberlakukan. Dengan keputusan ini diharapkan perbedaan-perbedaan yang selama ini ada dapat disatukan.

 

Referensi

 

van Gent, R.H.    A History of the International Date Line, Natuur & Sterrenkunde Universiteit Utrecht, Holland, 2001\

Khafid                Astronomi Salah Satu Solusi Penyatuan Kalender Islam,

                          BAKOSURTANAL 2005

Whitfield, P. 1994.         The image of the world: 20 centuries of world maps. Pomegranate Artbooks, San Francisco, 144 p.

Wolf R., 1890.    Handbuch der Astronomie, Ihrer Geschichte und Literatur, Zurich, vol 1, pp. 465-466.

 

This work is licensed under a Creative Commons Attribution By license. Ahmad Budairi
Bagikan Artikel :

No comments:

Post a Comment

Komentarlah yang baik.
Tujukkan Karakter Bangsa Indonesia.

 
Copyright © 2011. Purnama Kecil ™
All Rights Reserved
DMCA.com Protection Status